Farewell, Gus Dur 3
30 Desember 2009, Indonesia kehilangan Gus Dur, Presiden RI ke-4. Terus terang, saya tidak pernah melihat sosok Gus Dur sebagai politisi karena sebagai pemimpin, ia selalu tampak tanpa embel-embel, tanpa agenda, tanpa muslihat tersembunyi, bicara, mengkritik & bertindak apa adanya, sesuai yang ia yakini benar. So politically wrong?
Pada masa jabatannya sebagai Presiden RI, Gus Dur yang dikenal sebagai “pejuang kaum minoritas”, meninggalkan kesan yang mendalam kepada IBC (Indonesian Born Chinese) dengan menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional. Sebelum disahkan sebagai hari libur, kami para anak-anak IBC selalu bolos sekolah untuk merayakan Imlek, yang sebenarnya bukan masalah bagi saya (saya bersedia bolos kapan saja ^^”). Setelah dewasa, saya bisa menyadari bahwa apa yang dilakukan Gus Dur itu bukan hanya sekedar memberi tambahan hari libur di kalender, namun lebih merupakan suatu gesture ACCEPTANCE, an open hand bagi para IBC, sesuatu yang tidak terasa dalam pemerintahan sebelumnya.
Gus Dur juga dikenal sebagai seoarang Visionary pluralist, senantiasa memperjuangkan Agama & Perdamaian, baca salah satu artikelnya disini . Sayang, jadinya ia malah sering mendapat TUDUHAN MIRING, coba aja cek link2 popular di google tentang Gus Dur: gus dur masuk kristen - 44.300 hasil, gus dur yahudi - 102.000 hasil, gus dur selingkuh - 63.000 hasil, gus dur murtad - 24.500 hasil, gus dur dibaptis - 13.100 hasil.
Hmm? Apakah memang sebegitu sulitnya untuk mempercayai seorang pemimpin / pemuka agama yang menunjukkan secara publik bahwa ia menghormati agama lain dan senantiasa memperjuangkan kedamaian antar umat beragama?
Anyway, yang jelas saya prihatin dengan siapapun yang menjadi panitia public relation nya Gus Dur. I can totally imagine this conversation between them. PR guy: “Pak, saya menyarankan bapak untuk tidak terlalu kontroversial soal agama-agama ini pak. Entar popularitas bapak menurun, ga ada yang vote!” Gus Dur: “I’ll say what i want, gitu aja kok repot”. PR guy: “omaigat” *tarik-tarik rambut*
Ya, Gus Dur mungkin memang bukan sosok politisi ideal, tapi ia jelas adalah sosok manusia idealis yang memperjuangan apa yang ia percayai. So, farewell Gus Dur, i believe you are going to the place reserved for the good souls.



Aduh mbak, tulisannya yang ini bagus looh, saya S.U.K.A
Isu2 agama memang paling gampang meledak karena selalu ada orang2 berpikiran sempit. Kita tinggal di negara yang majemuk, sukunya saja banyak sekali, jadi sama halnya dengan bersosialisasi, kerukunan beragama jg wajib dijunjung. Belakangan ini orang2 banyak yg fanatik berlebihan….
Gusdur memang beda…
thank you mba chandra^^
mba zee totally agree w you, dan saya rasa ini bukan masalah agamanya sih, krn kan semua agama itu mengajari umatnya untuk menghormati, memaafkan & mengasihi sesamanya yg tdk seagama sekalipun, bukannya ngajar buat saling berperang dan berprasangka buruk.
Masalah baru muncul ketika agama mulai dicampuradukkan dengan politik, dimana SELALU ada org2 mengatasnamakan agama untuk kepentingan pribadi/golongan. dan begitu api disulut, it’s easy to be spread…sadly.